Akhir-akhir ini bumi Indonesia sedang dilanda hujan. Kadang saya benar-benar merasa takut saat melihat awan hitam menggantung di atas sana, benar-benar gelap seolah-olah saya takkan melihat lagi sinar matahari yang hangat. Saya berpikir bahwa inilah akhir dari segalanya saat kilat menyambar bertubi-tubi di muka bumi. Derasnya hujan, benar-benar memperpendek penglihatan, saya tidak tahu apa yang ada didepan sejauh 100 meter. Sungguh ini hujan yang paling deras dalam hidup saya.
Setiba dirumah, saya merenung, mengingat-ingat kejadian dijalan raya, diantara hujan yang mengguyur bumi, diantara angin kencang yang menghempaskan beberapa payung dan membuat pengendara motor tidak stabil. Sungguh kekuatan yang menyadarkan saya betapa kecilnya saya sebagai manusia. Pohon yang tumbang, dan rumah yang kebanjiran, sungguh ini adalah hujan yang paling deras. Sesekali kilat menyambar dan bergemuruh, sesekali itu juga telinga saya mendenging, seperti mikropon yang terlalu besar volumenya. Ketakutan saya iu mengingatkan saya bahwa itu semua ada yang mengaturnya, sungguh ini perjalanan untuk bertahan hidup.
Dilain waktu, dikota yang berbeda. Saya juga kehujanan, namun tidak sederas dan awan hitam menggantung. Namun hanya hujan gerimis dengan angin yang sepoi-sepoi. Saya berjalan berdua dengan kekasih hati menyusuri jalan yang basah, sembari bergandengan tangan, perasaan saya sungguh tenang. Romantisme yang alami dari alam, seolah-olah mereka ikut merasakan asmara yang ada pada kami berdua.
Hujan memang memberikan kehidupan, namun tak sedikit manusia yang memakinya. Seperti matahari yang bersinar didunia ini, dia juga memberikan kehidupan, namun tak sedikit juga yang memakinya. Renungkanlah, seberapa banyak kita mengeluh pada hujan dan terang. Jika hujan, maka tak sedikit dari kita (Manusia) yang mengeluh dan menjadikan alasan hujan untuk tidak keluar rumah dan memilih tetap diam, tak mengejar impiannya. Jika terang, maka tak sedikit juga yang menjadikannya sebagai alasan untuk tidak beraktifitas. Hujan dan terik matahari adalah kejadian alam yang, rela atau tidak, kita harus menerima dan bersyukur karenanya, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak mengejar impian. Masa depan kitalah yang dapat dirubah sesuai dengan apa yang kita usahakan dari sekarang.
Bertemanlah dengan hujan dan terik matahari, karena tanpa mereka kita takkan dapat hidup didunia ini. Mereka hanya ingin menghidupi bumi tempat kita tinggal, dan memberikan sesuatu yang membuat kita benar-benar merasa nyaman. Bukankah manusia itu sendiri merupakan bagian dari alam itu sendiri.